
Segelas Teh dan Hujan Yang Biasa
Cerita ini untuk mereka yang hidupnya tidak ditulis dalam buku sejarah, tapi tertulis di hati orang-orang yang pernah disapanya dengan hangat.

Cerita ini untuk mereka yang hidupnya tidak ditulis dalam buku sejarah, tapi tertulis di hati orang-orang yang pernah disapanya dengan hangat.
Cerita ini untuk mereka yang sudah mati sejak lama, hanya tubuhnya saja yang terlambat menyusul. Mereka yang berjalan seperti biasa, tapi tidak lagi hidup di mata siapa pun. Mereka yang hidupnya seperti dinding kosong—tanpa warna, tanpa coretan, tapi tetap berdiri hingga waktu yang memudarkannya.
Karena aku sedang belajar mengenal warna. Bukan yang di cat, tapi yang hidup di hati.